Senin, 25 Maret 2013

Budidaya Tanaman Tomat Didalam Pot



Budidaya Tomat di dalam Pot 

        Buah tomat merupakan tanaman sayuran yang sangat di gemari dan mempunyai   gizi  yang sangat tinggi
Akhir-akhir ini masyarakat khususnya perkotaan  memanfaatkan  lahan  yang sempit atau pekarangan rumah menjadi lebih optimal. Yaitu dengan menanam tanaman  sayuran dalam pot yang ditata di pekarangan rumah


PEDOMAN PENANAMAN SAYURAN TOMAT DALAM POT

1.    Seleksi Benih Tomat

            Kriteria benih tomat yang bagus adalah:
  •   Tidak cacat/luka 
  •  Sehat, tidak menunjukan adanya serangan hama/penyakit
  •  Bersih dari kotoran
  •  Benih tidak keriput 

2.    Penyemaian benih tomat. 
      Setelah proses penyeleksian terhadap benih tomat kemudian benih tomat didesinfektan dengan cara merendam benih tomat kedalam larutan fungisida, ini bertujuan agar mikroorganisme yang dapat menimbulkan penyakit mati, setelah itu baru disemai di persemaian. Setelah benih tumbuh dan berumur  7 – 10 hari bibit dipindah ke dalam  kantong-kantong kecil kemudian dibiarkan selama 17-21 hari. Bibit siap dipindahkan kedalam pot.

3.      Persiapan Pot
      Macam-macam pot yang dapat di gunakan  : Pot semen, pot kramik,  pot plastik,  atau pot tanah, polybag, kaleng – kaleng bekas. Pot-pot yang digunakan harus mempunyai  lubang bawah  sehingga air dapat keluar dengan mudah.

4.      Persiapan media tanam.
         Media tanam yang digunakan  abu sekam bakar, pupuk kandang, tanah dengan berbandingan              2 : 1 : 1. Semua media tanam di campur rata kemudian dimasukan kedalam pot.

5.      Penamaman 
         Setelah pot dan benih berumur 30 hari  maka dilakukan penanaman ke dalam pot/polybag.

6.      Pemeliharaan
         Tanaman tomat yang sudah ditanam dalam pot diletakkan  ditempat yang teduh. Setelah tunas baru tumbuh maka pot dapat di pindahkan kepekarangan terbuka,  atau ditempat yang tidak kena cahaya matahari langsung. Penyiraman  dilakukan 2 x sehari pagi dan sore.   Untuk menjaga  tanaman tomat tumbuh tegak maka dipasang ajir/ tongkat.

7.      Pemupukan  
         Karena tomat termasuk sayuran buah, setelah benih tumbuh menjadi bibit selain diberikan pupuk N (Urea) tanaman  perlu diberikan pupuk P dan K untuk  merangsang  terjadinya  pembungaan dan buah.

8.      Hama dan Penyakit

        Hama
  • Ulat tanah, gejala yang timbul terpotongnya pangkal batang dan rebah. Pengendaliannya memberikan furadan 3 G pada  sekitar pangkal batang.
  • Ulat Grayak, gejalanya daun bercak-bercak putih dan berlubang pengendaliannya dengan musuh alami
       Penyakit
  • Busuk Daun, gejalanya  daun bercak-bercak kondisi daun agak basah, lunak, berwarna hijau kehitam-hitaman. Pengendalian dengan penyemprotan fungisida 
9.      Panen
         Tanaman tomat dapat dipanen pada usia 60 -  100 hari setelah tanam

10.  Manfaat Buah Tomat
  • Membantu menurunkan resiko gangguan jantung.
  • Menghilangkan kelelahan dan menambah nafsu makan.
  •  Memperlambat penurunan fungsi mata karena pengaruh usia.
  • Mengurangi resiko radang usus buntu. 
  • Membantu menjaga kesehatan organ hati, ginjal, dan mencegah kesulitan buang air besar.
  • Menghilangkan jerawat.
  • Mengobati diare.
  • Meningkatkan jumlah sperma pada pria.
  • Memulihkan fungsi lever.
  
TERIMA KASIH TELAH MEMBACA.. 
apabila ada kesalahan maupun kekurangan dalam penulisan silahkan dikoment ya, kritik n saran sobat sekalian sangat membangun isi artikel ini ..
semoga bermanfaat artikel saya.... 
 
hormat admin : ali

Sistem Pengelolaan Kekeringan

Sistem Pengelolaan Kekeringan
 


Kekeringan merupakan problem manajemen sumber daya air yang kompleks, melibatkan banyak stakeholder dan membutuhkan tindakan individual atau kolektif terpadu untuk mengamankan suplai air. Kekeringan juga merupakan phenomena hidrologi yang paling kompleks, perwujudan dan penambahan isu-isu berkaitan dengan iklim, tata guna lahan, norma pemakaian air serta manajemen seperti persiapan, antisipasi dan sebagainya. Kompleksitas bertambah karena diketahui kekeringan merupakan bencana dengan prosesnya berjalan lambat sehingga dikatakan sebagai bencana merangkak (creeping disaster). Datangnya tidak tiba-tiba (instan) seperti banjir atau gempa bumi, namun timbul perlahan-lahan sehingga sangat mudah diabaikan. Tidak bisa diketahui secara pasti awal dan kapan bencana ini berakhir, namun semua baru sadar setelah berada di periode tengahnya. Masyarakat awam umumnya baru menyadari ketika air di dalam sumurnya habis, ketika aliran PDAM macet, ketika penyedotan air tanah dengan pompa hanya keluar udara (Iglesias et al., 2007; Grigg, 1992 dengan modifikasi).

Pendekatan strategis merupakan pendekatan dengan konsep keseimbangan antara suplai dan kebutuhan serta antisipasi atau menghindari ancaman dari dampak kekeringan. Pengelolaan masalah kekeringan harus menetapkan taraf risiko kegagalan dari suplai air yang terbingkai oleh dua pernyataan yaitu risiko dari kekurangan air dan keamanan suplai (security of supply).

Dengan kata lain pendekatannya harus berdasarkan keseimbangan antara ketersediaan air dan kebutuhan. Dari sisi ketersediaan, sumber daya air yang ada harus terjamin keberadaannya yang berkelanjutan (sustainable). Sedangkan dari sisi kebutuhan, air yang dimanfaatkan harus lebih kecil atau sama dengan ketersediaannya.

Dari uraian di atas langkah-langkah untuk pemenuhan strategi yang perlu dilakukan adalah:

  • Identifikasi daerah rawan kekeringan.

  • Pemetaaan detail daerah rawan kekeringan dari berbagai aspek.

  • Identifikasi dan pemetaan sebaran penduduk dan kebutuhan air baku.

  • Pemetaan kebutuhan dan ketersediaan air.

  • Sosialisasi kebutuhan dan ketersediaan air yang ada untuk berbagai instansi
  • Sosialisasi pemakaian air secara efisien dan efektif.

  • Penyusunan rencana tindak yang komprehensif, sektor dan multik sektor.

Berbagai model dan analisis dapat diaplikasikan untuk tiap-tiap aspek yang ditinjau meliputi aspek-aspek meteorologi, hidrologi, pertanian dan sosial ekonomi dll.

Untuk identifikasi, kuantifikasi dan monitoring kejadian kekeringan berbagai metode telah diusulkan. Dari metode-metode tersebut yang paling populer adalah indeks kekeringan. Indeks ini merupakan kombinasi khusus indikator-indikator meteorologi, hidrologi dan data lainnya (Tsakiris et al., 2007).

Indeks kekeringan menggambarkan suatu ukuran dari perbedaan kebutuhan dan ketersediaan sumber air dan merupakan bagian dari sistem pendukung keputusan yang berhubungan dengan kekeringan. Untuk utilitas air lokal akan menggunakan indeks kekeringan untuk menginformasikan pembatasan penggunaan air dan mengumumkan ketersediaan air yang ada kepada pemakai (publik).

Dalam skala daerah aliran sungai (DAS), pengelola akan menggunakan suatu indeks untuk informasi dan koordinasi penggunaan air di seluruh wilayah DAS. Untuk wilayah regional (kabupaten/kota sampai provinsi) indeks dapat dipakai untuk mengukur tingkat ketersediaan dan kebutuhan di seluruh wilayah tersebut (Grigg, 1996).

Pada tingkatan yang berbeda-beda tersebut, indeks dapat dipakai untuk laporan, riset atau rencana aksi. Pemakai indeks yang berbeda akan membutuhkan pendukung keputusan yang berbeda.

Secara umum persiapan dan mitigasi dalam menghadapi musim kemarau dapat disebutkan beberapa hal, yaitu (Grigg dan Vlachos, 1990 & 1993):

Pengembangan air permukaan pada sungai, danau, rawa, dan sumber air permukaan lain dilaksanakan dengan memperhatikan karakteristik dan fungsi sumber air yang bersangkutan. [Ayat (1) Pasal 79 PP RI No.42 Tahun 2008].

Yang dimaksud dengan "karakteristik sumber air", misalnya:

  1. keberadaan aliran air di sungai sepanjang tahun atau musiman;

  2. tingkat kemiringan dasar sungai (curam atau landai);

  3. tingkat kandungan sedimen di sungai;

  4. letak danau di pegunungan atau di dataran rendah; dan

  5. jenis rawa (pasang-surut atau rawa lebak).

Yang dimaksud dengan "fungsi sumber air", misalnya, fungsi sumber air sebagai jalur transportasi, sumber air baku, kawasan lindung, dan kawasan pelestarian alam. [Penjelasan Pertama Ayat (1) Pasal 80 PP RI No.42 Tahun 2008].

Sistem Pengendalian Banjir

Sistem Pengendalian Banjir

Banjir dan genangan yang terjadi di suatu lokasi diakibatkan antara lain oleh sebab-sebab berikut ini (Kodoatie dan Sugiyanto, 2002):
  1. Perubahan tata guna lahan (land-use) di daerah aliran sungai (DAS)
  2. Pembuangan sampah
  3. Erosi dan sedimentasi
  4. Kawasan kumuh di sepanjang sungai/ drainase
  5. Perencanaan sistem pengendalian banjir tidak tepat
  6. Curah hujan
  7. Pengaruh fisiografi/geofisik sungai
  8. Kapasitas sungai dan drainase yang tidak memadai
  9. Pengaruh air pasang
  10. Penurunan tanah dan rob (genangan akibat pasang air laut)
  11. Drainase lahan
  12. Bendung dan bangunan air
  13. Kerusakan bangunan pengendali banjir
  14.  
     
Bilamana diklasifikasikan oleh tindakan manusia dan yang disebabkan oleh alam maka penyebab di atas dapat disusun sebagai berikut. Yang termasuk sebab-sebab banjir karena tindakan manusia adalah: