Senin, 18 Februari 2013

APLIKASI ABU SABUT KELAPA TERHADAP TANAMAN KEDELAI HITAM


LAPORAN  AKHIR  PRAKTIKUM

DASAR-DASAR AGRONOMI
APLIKASI ABU SABUT KELAPA TERHADAP TANAMAN KEDELAI HITAM

D
I
S
U
S
U
N

OLEH :

NAMA       : HAIDIR ALI
                                            NIM            : D1A011064
   KELAS       : AGROEKOTEKNOLOGI B

PEMBIMBING PRAKTIKUM         :  1. DR.Ir. NERTY SOVERDA, MS
                                                                                          2. Ir. GUSNIAWATI, MP

FAKULTAS PERTANIAN
 
UNIVERSITAS JAMBI

T.A 2013/2014
 
BAB I
PENDAHULUAN

1.1       LATAR BELAKANG

Kacang kedelai adalah salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar banyak makanan dari Asia Timur seperti kecap, tahu, dan tempe. Kedelai yang dibudidayakan adalah Glycine max yang merupakan keturunan domestikasi dari spesies moyang, Glycine soja. Dengan versi ini, G. max juga dapat disebut sebagai G. soja subsp. max. Kedelai merupakan tanaman budidaya daerah Asia subtropik seperti Cina dan Jepang. Sebaran G. soja sendiri lebih luas, hingga ke kawasan Asia tropik.  Kedelai juga merupakan tumbuhan serbaguna. Karena akarnya memiliki bintil pengikat nitrogen bebas, kedelai merupakan tanaman dengan kadar protein tinggi sehingga tanamannya digunakan sebagai pupuk hijau dan pakan ternak.
Kedelai merupakan sumber utama protein nabati dan minyak nabati dunia. Penghasil kedelai utama dunia adalah Amerika Serikat meskipun kedelai praktis baru dibudidayakan masyarakat di luar Asia setelah 1910. Di Indonesia, kedelai menjadi sumber gizi protein nabati utama, meskipun Indonesia harus mengimpor sebagian besar kebutuhan kedelai. Ini terjadi karena kebutuhan Indonesia yang tinggi akan kedelai putih. Kedelai putih bukan asli tanaman tropis sehingga hasilnya selalu lebih rendah daripada di Jepang dan Cina. Pemuliaan serta domestikasi belum berhasil sepenuhnya mengubah sifat fotosensitif kedelai putih. Di sisi lain, kedelai hitam yang tidak fotosensitif kurang mendapat perhatian dalam pemuliaan meskipun dari segi adaptasi lebih cocok bagi Indonesia. Kedelai hitam adalah jenis biji-bijian atau yang dikenal dengan nama latin Glycine max (L) Merrit ini adalah komoditas pertanian unggul yang memiliki banyak manfaat yang berguna. Kecap, tempe, tahu, susu dan lain-lain adalah beberapa contoh produk olahan dari kedelai hitam.
Tingkat konsumsi tanaman kedelai setiap tahunnya semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan pola kebutuhan masyarakat. Hal ini menyebabkan permintaan akan tanaman kedelai khususnya kedelai hitam semakin meningkat, sementara penyediaan dari daerah sentra produksi maupun lokal belum memadai. Berbagai upaya untuk memenuhi permintaan kedelai hitam terus dilakukan, antara lain melalui perluasan areal tanam dan peningkatan hasil kedelai. Di Provinsi Jambi perluasan areal tanam umumnya dilakukan pada tanah Podzolik Merah Kuning yang produktivitasnya rendah karena kandungan unsur hara, terutama P, K, Ca dan Mg sangat rendah, reaksi masam, dan kejenuhan Al tinggi, sehingga serapan hara dan pembentukan senyawa organik terganggu.
Salah satu alternatif untuk meningkatkan produktivitas tanah adalah dengan pemberian bahan organik. Bahan organik yang mempunyai potensi untuk digunakan dan mudah didapat antara lain adalah sabut kelapa. Sabut kelapa merupakan limbah pertanian yang selama ini kurang dimanfaatkan keberadaannya (Denian dan Fiani, 2001). Pemanfaatan sabut kelapa sebagai pengganti pupuk KCl merupakan salah satu alternatif untuk menurunkan biaya produksi. Selain itu pemberian sabut kelapa dalam bentuk abu memberikan keuntungan bila dibandingkan pemberian dalam bentuk segar, karena pemberian dalam bentuk abu memungkinkan unsur hara yang terkandung di dalamnya untuk lebih cepat tersedia bagi tanaman. Pemberian bahan organik ke dalam tanah memperlihatkan pengaruh yang sangat penting bagi tanaman, karena menyumbangkan hara, terutama unsure K sehingga K-tersedia di dalam tanah meningkat. Dengan besarnya ketersediaan K di dalam tanah memungkinkan akar tanaman menyerap unsure K yang tersedia untuk memenuhi kebutuhannya.
Sunarti (1996) melaporkan bahwa K2O yang terkandung di dalam abu sabut kelapa adalah sebesar 10,25%, dan diberikan sebanyak 643,940 kg ha-1 pada tanaman Centrosema pubescens mampu meningkatkan K-tersedia total tanah sebesar 740,07 mg, dan meningkatkan hasil tanaman. Gusnadi (1999), melaporkan bahwa penambahan abu sabut kelapa mampu meningkatkan tinggi tanaman, jumlah cabang per rumpun, jumlah polong berisi, jumlah biji per polong, dan berat biji per tanaman pada tanaman kedelai.
1.2       TUJUAN PRAKTIKUM :
                Adapun tujuan dari praktikum pemberian abu limbah tanaman pada tanaman kedelai     ialah :
1.      Mahasiswa mengetahui kegunaan pupuk organic dari berbagai abu limbah tanaman.
2.      Mahasiswa dapat membandingkan pertumbuhan dan hasil tanaman dengan berbagai jenis abu
Perlakuan pada praktikum ini adalah abu dari berbagai jenis limbah tanaman yaitu :
1.      Abu janjang kelapa sawit
2.      Abu sabut kelapa
3.      Abu sekam padi
4.      Abu jerami padi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kedelai (Glycine max (L) Merrill) mempunyai peranan cukup besar dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.Komoditi tersebut merupakan sumber protein nabati yang efesien dan menduduki tempat pertama diantara tanaman kacang-kacangan.
Kedelai Hitam berasal dari tanaman liar di Cina Utara. Sejalan dengan semakin berkembangnya perdagangan antarnegara yang terjadi pada awal abad ke-19, menyebabkan Kedelai Hitam juga ikut tersebar ke berbagai negara tujuan perdagangan, yaitu Jepang, Korea, Indonesia, India, Australia, dan Amerika. Di Indonesia sendiri, Kedelai Hitam diperkirakan menyebar pada zaman Dinasti Zhou (sekitar 664 SM) sejalan dengan penyebaran agama Buddha dan perdagangan para biksu vegetarian serta barter antara pedagang china dengan pribumi Jawa. Pada abad ke -12 atau 13 tanaman Kedelai Hitam ditemukan di wilayah Jawa Timur tepatnya Banyuwangi. Bukti nyata keberadaan Kedelai Hitam di daerah Jawa Timur adalah dengan banyak berdirinya pabrik-pabrik kecap di wilayah Tuban.
Botani Tanaman Kedelai
            Kedele merupakan tanaman asli daratan cina dan telah dibudidayakan oleh manusia sejak 2500 SM. Sejalan dengan makin berkembangnya perdagangan antar Negara yang terjadi pada awal abad ke 19, menyebabkan tanaman kedelai juga ikut tersebar ke berbagai Negara ujuan perdagangan yaitu Jepang, Korea, Indonesia, India, Australia, dan Amerika. Kedelai mulai dikenal di Indonesia sejak abad ke 16.Awal mula penyebaran dan pembudidayaan kedelai yaitu di Pulau Jawa kemudian berkembang ke Bali, Nusa Tenggara dan daerah lainnya. Pada awalnya kedelai dikenal dengan beberapa nama bertani yaitu Glycinrsoja dan Sojamax.
 fauji (2009) tanaman kedelai memiliki klasifikasi sebagai berikut :
Kingdom         : Plantae
Divisio             : Spermatophyta
Sub divisio      : Angiospermae
Kelas               : Dicotyledonae
Ordo                : Rosales
Famili              : Leguminosae
Genus              : Glycine
Spesies            : Glycine max (L) Merrill

2.1       Morfologi tanaman kedelai
Sistem perakaran kedelai terdiri dari dua macam, yaitu akar tunggang dan akar sekunder (serabut) yang tumbuhan dari akar tunggang.Selain itu kedelai juga seringkali membentuk akar adventif yang tumbuh dari bagian bawah hipokotil. Pada umumnya akar adventif terjadi karena cekamam tertentu, misalnya kadar air tanah yang terlalu tinggi (Suastika dkk, 1997).
Kedelai berbatang agak tinggi 30-100 cm. Batang dapat membentuk 3-6 cabang, tetapi bila jarak antar tanaman rapat cabang menjadi berkurang. Tipe pertumbuhan batang dibedakan menjadi terbatas (determinate), tidak terbatas (indeterminate) dan setengah terbatas (semi-determinate). Tipe terbatas memiliki ciri berbunga serentak dan mengakhiri pertumbuhan, ujung batang hampir sama besar dengan batang bagian tengah. Tipe indeterminate memiliki ciri berbunga sacara bertahap dari bawah ke atas dan terus tumbuh, ujung batang lebih kecil dari bagian tengah.Tipe semi-indeterminate berada diantara ke dua tipe tersebut (fauji, 2009).
Tanaman kedelai mempunyai dua bentuk daun yang dominan, yaitu stadia kotiledon yang tumbuh saat tanaman masih berbentuk kecambah dengan dua helai daun tunggal dan daun bertangkai tiga (triofoliate leaves) yang tumbuh setelah masa perkecambahan. Bentuk daun diperkirakan mempunyai korelasi yang sangat erat dengan potensi produksi biji. Pada daun terdapat bulu dengan warna cerah dan jumlahnya bervariasi (Adisarwanto, 2006 ). Tanaman kedelai memiliki daun majemuk. Daun majemuk beranak daun tiga, berselang-seling.Helaian daun tunggal memiliki tangkai pendek dan daun majemuk memiliki tangkai agak panjang. Masing-masing daun berbentuk oval, tipis dan berwarna hijau ( Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).
Buah kedelai berbentuk polong, setiap buah berisi 1 - 4 biji, tetapi rata-rata berisi 2 biji.Polong kedelai berbulu dan berwarna kuning kecoklatan atau abu-abu. Selama proses pematangan buah, polong yang mula-mula berwarna hijau akan berubah menjadi kehitaman atau kecoklatan. Jumlah polong per tanamn bervariasi tergantung varietas, kesuburan tanah dan jarak tanam (Suastika, dkk, 1997)
Umur kedelai sampai berbunga bervariasi, tergantung varietasnya. Varietas umumnya dapat dipanen pada umur 80-90 hari. Pembungaan sangat dipengaruhi oleh lama penyinaran dan suhu. Tanaman kedelai termasuk tanaman hari pendek, yang berarti tanaman tidak akan berbunga, bila lama penyinaran melebihi batas kritis, yakni sekitar 15 jam (Suprapto, 1999).

2.2       Syarat Tumbuh
2.2.1 Iklim
Kedelai dapat dibudidayakan mulai dari daerah katulistiwa sampai letak lintang 550 LU atau 550 LS dengan ketinggian sampai 2000 meter dari permukaan laut. Suhu optimun untuk pettumbuhannya adalah 210C – 320C (http://aliimpoenya.wordpres.com, 2009).
Suhu tanah yang optimal dalam proses perkecambahan yaitu 300 C. Bila tumbuh pada suhu tanah yang rendah (150 C), proses perkecambahan akan jadi lambat. Disamping suhu tanah, suhu lingkungan juga berpengaruh terhadap perkembangan tanaman kedelai. Bila suhu lingkungan sekitar 400 C pada masa berbunga, bunga tersebut akan rontok sehingga jumlah polong dan biji yang terbentuk menjadi berkurang ( Adisarwanto, 2005 ).
Curah hujan yang cukup selama pertumbuhan dan berkurang saat pembungaan dan menjelang pemasakan buah akan meningkatkan hasil kedelai. Untuk panen yang baik curah hujan 500 mm per musim.Curah hujan optimal 100-200 mm/ bulan. Gangguan kekeringan selama masa pembungaan akan mengurangi pembentukan polong, tetapi pengurangan produksi lebih terasa pada tahap pengisian polong dari pada tahap pembungaan (Tindall, 1983).
2.2.2 Tanah
Tanaman kedelai dapat tumbuh baik jika dreanase dan aerase tanah baik, untuk dapat tumbuh subur kedelai menghendaki tanah yang subur, gembur, serta kaya akan bahan organik. Bahan organik yang cukup akan memperbaiki dan menjadi bahan makanan bagi organisme dalam tanah (Suprapto,1999).
Tanah yang dapat ditanami kedelai memiliki air dan hara tanaman untuk pertumbuhannya cukup.Tanah yang mengandung liat tinggi sebaiknya diadakan perbaikan draenase dan aerase sehingga tanaman tidak kekurangan oksigen. Tanaman kedelai dapat tumbuh pada jenis tanah alluvial, regosol, gumusol, latosol dan andosol (Suprapto,1999).
Keasaman berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman sebab keasaman tanah mempengaruhi pada jumlah unsur hara yang bisa diserap oleh tanaman, kondisi keasaman yang baik adalah 6-7 pada kondisi ini semua unsur hara paling banyak tersedia sehingga penyerapan unsur hara menjadi efektif (Isnaini, 2006).
Jika pH 5,5 atau pada tanah masam pertumbuhan bintil akar akan terhambat sehingga proses pembentukan nitrifikasi akan berjalan kurang baik serta kedelai dapat keracunan alumunium (Najiyati dan Danarti, 1999).
Di Provinsi Jambi perluasan areal tanam umumnya dilakukan pada tanah Podzolik Merah Kuning yang produktivitasnya rendah karena kandungan unsur hara, terutama P, K, Ca dan Mg sangat rendah, reaksi masam, dan kejenuhan Al tinggi, sehingga serapan hara dan pembentukan senyawa organik terganggu (Hakim et al., 1986). Salah satu alternatif untuk meningkatkan produktivitas tanah adalah dengan pemberian bahan organik. Bahan organik yang mempunyai potensi untuk digunakan dan mudah didapat antara lain adalah sabut kelapa. Sabut kelapa merupakan limbah pertanian yang selama ini kurang dimanfaatkan keberadaannya (Denian dan Fiani, 2001). Sebagaimana diketahui, serbuk sabut kelapa memiliki kandungan trichoderma molds, sejenis enzim dari jamur yang dapat mengurangi penyakit dalam tanah, menjaga tanah tetap gembur, subur dan memudahkan akar baru tumbuh dengan cepat dan lebat. Selain itu, ia juga memiliki pori-pori yang memudahkan terjadinya pertukaran udara, dan masuknya sinar matahari. Di dalam serbuk sabut kelapa juga terkandung unsur-unsur hara dari alam yang sangat dibutuhkan tanaman, berupa kalsium (Ca), magnesium (Mg), natrium (Na), nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K).
Sunarti (1996) melaporkan bahwa K2O yang terkandung di dalam abu sabut kelapa adalah sebesar 10,25%, dan diberikan sebanyak 643,940 kg ha-1 pada tanaman Centrosema pubescens mampu meningkatkan K-tersedia total tanah sebesar 740,07 mg, dan meningkatkan hasil tanaman. Gusnadi (1999), melaporkan bahwa penambahan abu sabut kelapa mampu meningkatkan tinggi tanaman, jumlah cabang per rumpun, jumlah polong
berisi, jumlah biji per polong, dan berat biji per tanaman pada tanaman kedelai.

2.3 Lingkungan Tumbuh

2.3.1 Gulma pada Pertanaman Kedelai
Gulma adalah tanaman yang tidak dikehendaki yang tumbuh bersama tanaman kedelai yang sedang diusahakan, serta sisa-sisa tanaman sebelum pelaksanaan penangkaran benih. Tanaman-tanaman tersebut merupakan kompetitor atau pesaing dalam pemanfaatan air, zat hara tanah, sinar matahari, dan ruang di sekitar tanaman kedelai, bahkan berperan sebagai inang hama serta penyakit tertentu. Akumulasi dari tingkat persaingan oleh gulma tersebut tampak nyata di lahan.Pada tempat-tempat yang telah ditumbuhi gulma, tanaman kedelai tidak dapat tumbuh dengan baik.Menurut Soetikno S. Sastroutomo (1990) penurunan hasil akibat kompetisi gulma pada pertanaman kedelai dapat mencapai 10-50%.
Pada prinsipnya, pengendalian gulma dapat dilakukan secara kultur teknis, mekanis, biologis, dan khemis. Pengendalian gulma pada penangkaran benih kedelai ditekankan pada perlakukan kultur teknis dan cara mekanis. Oleh karena itu, pengolahan tanah dan perlakukan penyiangan tanaman serta roguing perlu dilakukan secara intensif.

2.3.2 Hama Tanaman Kedelai
Jenis hama yang biasa menyerang tanaman kedelai relatif banyak, baik yang berpotensi merusak tanaman dalam katagori ringan hingga berat, mengakibatkan penurunan produksi, dan bahkan mengakibatkan tanaman fuso (tidak menghasilkan).
I. Hama Perusak Bibit
a. Lalat Kacang
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan lalat kacang adalah terdapatnya bintik-bintik putih pada keping biji, daun pertama, atau daun kedua, yakni bekas tusukan alat peletak telur. Gejala yang lain adalah terdapat liang berupa alur atau garis lengkung berwarna coklat, bekas gerekan larva.
b. Penggerek Batang
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan penggerek batang adalah terdapatnya bintik-bintik putih pada daun tanaman muda, tempat imago meletakkan telurnya.Kerusakan lebih lanjut berupa lubang gerekan oleh larva pada daun, tangkai daun, dan batang.Kadang ranting yang digerek menjadi patah.
c. Penggerek Pucuk
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan penggerek pucuk adalah terdapatnya bekas tusukan alat peletak telur pada permukaan daun bagian atas.Selanjutnya, terdapat lubang gerekan larva pada daun, tulang daun, tangkai daun dan pucuk daun.Daun pucuk menjadi layu, mengering, dan mati, kemudian terbentuk banyak cabang baru namun kurang produktif.
Pengendalian hama perusak bibit dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: Penanaman penangkaran benih kedelai secara serempak; sanitasi kebun, roguing tanaman yang menunjukkan gejala sakit; dan penyemprotan dengan larutan insektisida, bila intensitas serangan pada tanaman yang berumur kurang dari sepuluh hari mencapai 2% atau lebih.
II Hama Perusak Daun
Beberapa jenis hama yang menyerang daun tanaman kedelai adalah sebagai berikut:
a. Kumbang Daun Kedelai
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan hama ini terlihat pada pucuk tanaman, daun, bunga dan polong. Serangan pada tanaman muda dapat mengakibatkan kematian.Serangann pada fase selanjutnya, mengakibatkan terganggunya pembentukan bunga, pembentukan polong, dan pengisian biji sehingga menurunkan kuantitas dan kualitas biji kedelai.
b. Ulat Grayak
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan ulat ini adalah daun tanaman habis (hanya tersisa tulang daun), polong muda rusak, atau seluruh tanaman rusak.Gejala yang nampak tergantung pada jenis tanaman yang diserang dan intensitas serangan larva muda serta larva dewasa.
c. Kumbang Tanah Kuning
Gejala kerusakan akibat serangan kumbang tanah kuning adalah terdapatnya lubang-lubang kecil bekas gigitan serangga pada keping biji, daun muda, pucuk, atau cabang tanaman.
d. Ulat Jengkal
Gejala kerusakan akibat serangan ulat jengkal adalah kerusakan daun dari arah pinggir.Serangan berat mengakibatkan kerusakan daun hingga hanya tersisa tulang-tulang daun.

e. Ulat Penggulung Daun
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan ulat penggulung daun adalah daun terlihat menggulung dengan bagian atas merekat.Jika dibuka, pada bagian dalam terlihat bahwa tulang daun telah dimakan ulat.
f. Ulat Pelipat Daun
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan hama ini adalah pinggiran helaian daun merekat. Larva tinggal di daun yang merekat tersebut dan merusak jaringan sepanjang tulang daun.
Pengendalian hama perusak daun dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain sebagai berikut:
1.         Penanaman serentak sehingga periode vegetatif terjadi secara serempak
2.         Pengolahan tanah secara baik untuk mematikan hama yang berada di dalam tanah
3.         Pemusnahan kelompok telur yang ditemukan
4.         Pengamatan dini untuk menentukan penanggulangan dengan insektisida
III. Hama Perusak Polong
Beberapa jenis hama yang sering ditemukan merusak polong tanaman kedelai adalah sebagai berikut:
a. Penggerek Polong
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan hama ini adalah terdapatnya bintik atau lubang berwarna cokelat tua pada kulit polong, bekas jalan masuk larva ke dalam biji. Seringkali, pada lubang bekas gereka terdapat butir-butir kotoran kering yang berwarna coklat muda dan terikat benang pintal atau sisa-sisa biji terbalut benang pintal.
b. Kepik Polong
c. Kepik Hijau
Kepik Hijau dikenal dengan nama Nezara viridula, Green Stink Bug, dan Lembing Hijau. Hama ini merupakan salah satu hama utama pada tanaman kedelai dan bersifat polifag. Tanaman inang hama ini antara lain padi, kacang hijau, tanaman kacang-kacangan, orok-orok dan kentang.
Pengendalian hama perusak polong dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain pergiliran tanaman, penanaman serempak, dan pengamatan secara intensif sebelum dilakukan pengendalian dengan menggunakan insektisida. Penggunaan insektisida akan cukup efektif secara ekonomi jika intensitas serangan penggerek polong lebih dari 2 % atau jika ditemukan sepasang populasi penghisap polong dewasa atau kepik hijau dewasa pada umut 45 hari setelah tanam.


BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1       Waktu dan Tempat
Percobaan ini dilaksanakan selama dua bulan yaitu November 2012 – januari 2013. Penanaman dilaksanakan pada 23 November 2012. Pengamatan dilaksanakan setiap hari selasa dan akhir pengamatan pada 20 Desember 2012.Percobaan ini dilaksanakan di lahan percobaan fakultas pertanian universitas jambi.

3.2       Alat  dan Bahan
                Alat yang digunakan saat praktikum yaitu : cangkul , parang, ember, tali plastic, bambu dan kayu, gergaji, timbangan pupuk, gembor.
            Bahan-bahan yang digunakan saat praktikum yaitu : benih kedelai hitam , pupuk (N) urea 46%, pupuk (P) TSP , pupuk ( K ) KCl , pupuk kandang berupa kotoran ayam, Abu Sabut Kelapa ,dan air.

3.3       Prosedur Percobaaan
1.      Membersihkan lahan
2.      Membuat petakan seluas 1 x 1,5 m , sebanyak 34 petak
3.      Memberikan pupuk dasar yaitu pupuk kandang ayam dengan disebarkan diatas petakan sebelum penanaman tanaman kedelai kemudian diaduk dan diratakan dengan cangkul.
4.      Memberikan perlakuan abu sabut kelapa sebanyak 700 gram setiap petak
5.      Penanaman
·         Penanaman dilakukan 1 minggu setelah pemberian abu dengan jarak tanam 40 x 20 cm.
·         Buat lubang tanam dengan menggunakan tugal ataupun jari tangan dengan kedalaman 3 - 4 cm.
·         Masukkan benih kedelai hitam pada lubang tanam sebanyak 3 butir benih per lubang.
·         Tabur pupuk Urea, TSP, dan KCl pada larikan. ( dosis pupuk terlebih dahulu dihitung).
·         Setelah semua benih dimasukkan kedalam lubang tanam dan pupuk dimasukkan kedalam alur, maka lubang tanam dan alur pupuk di tutup dengan tanah yang lembut dan gembur.
·         Pasang label pada setiap petak sesuai dengan perlakuan abu limbah tanaman beserta nama dan nim mahasiswa masing-masing.
·         Penyiraman petakan.
      6.   Pemeliharaan
Pemeliharaan yang dilakukan selama pertumbuhan tanaman baik prapanen hingga panen meliputi :
·         Penyiraman yang dilakukan setiap hari siang dan sore kecuali hari hujan.
·         Penyulaman dilakukan pada umur tanaman 1 MST ( Minggu sesudah tanam ) apabila tanaman tidak tumbuh.
·         Penyiangan , membersihkan gulma pada petakan dan sekitar petakan dengan menggunakan cangkul atau parang. Penyiangan dilakukan setiap 1 minggu sekali.
·         Pembubunan dilakukan setiap 1 minggu sekali , dengan menimbuni bagian batang bawah tanaman dengan menaikkan tanah samping kanan dan kiri tanaman sehingga membentuk gundulan.
·         Membersihkan aliran drainase di sekitar tanaman , dilakukan setiap 1 minggu sekali.
   7.      Pengamatan
Pengamatan yang dilakukan pada tanaman kedelai selama masa pertumbuhan sampai panen adalah :
a.       Pertumbuhan
·         Daya tumbuh benih, hitung jumlah benih yang tumbuh dari seluruh lubang tanam dibagi dengan seluruh lubang tanam kemudian dipersentasekan. Pengamatan dilakukan 1 minggu setelah tanam.
·         Tinggi tanaman, diukur dari permukaan tanah sampai titik tumbuh, pengukuran 1 x seminggu.
·         Jumlah daun trifoliate, dengan menghitung jumlah daun yang telah membuka sempurna dihitung setiap 1 minggu sekali.
·         Jumlah cabang.
·         Menghitung berat kering tanaman, dihitung pada masa pertumbuhan generatif di mulai. Dengan mencabut 1 tanaman kedelai kemudian dibersihkan dengan air dan masukkan kedalam amplop.
·         Mengamati banyaknya bintil akar sewaktu mencabut tanaman untuk mengukur berat kering tanaman.
·         Hitunglah umur tanaman mulai berbunga.

b.      Hasil dan komponen hasil
Panen dilakukan apabila polong sudah mulai menguning dan apabila di pencet sudah keras dan biji kedelai sudah berwarna hitam. Komponen hasil yang diamati antara lain :
·         Jumlah polong pertanaman.
·         Jumlah polong berisi.
·         Berat polong.
·         Berat biji kering per tanaman.

c.       Indeks panen, dengan menghitung bobot polong dibagi dengan total tanam.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Dari hasil praktikum Tanaman kedelai yang telah dilaksanakan data pengamatan dimasukan ke   dalam tabel dan digabungkan dengan perlakuan teman-teman perkelompok.

Pengamatan 1, hari selasa tanggal 30 oktober 2012 

VII.1 PERLAKUAN ABU SABUT KELAPA
1.      Yang diamati dalam praktikum pertama setelah penananaman adalah pertumbuhan dari tanaman kedelai yaitu :
= Jumlah tanaman yang tumbuh / jumlah biji yang ditanam dikali 100 %
= 9 / 18 x 100 %
= 50 %
Minggu
Pertumbuhan Tanaman
Tanaman
Rata -
1
2
3
4
5
6
Rata
Minggu ke 2
T.Tanaman(cm)
4
9
7
8
6
4
6,2
Jumlah Daun
1
1
1
1
1
1
1.00
Jumlah Cabang
-
-
-
-
-
-

Minggu ke 3
T.Tanaman(cm)
7
11
10
10
9
6
8,83
Jumlah Daun
1
3
3
2
2
2
2,16
Jumlah Cabang
-
-
-
-
-
-

Minggu ke 4
T.Tanaman(cm)
11
16
15
13
12
11
13
Jumlah Daun
3
5
5
4
4
3
4
Jumlah Cabang
-
-
-
-
-
-

Minggu ke 5
T.Tanaman(cm)
21
27,5
28
22,5
22
21
23,7
Jumlah Daun
7
9
10
8
7
7
8
Jumlah Cabang
-
-
-
-
-


Minggu ke 6
T.Tanaman(cm)
34,5
40
41,5
38
37
39
38,3
Jumlah Daun
14
19
21
18
18
16
17,7
Jumlah Cabang
3
7
7
5
4
4
5

PENGAMATAN MINGGU KE-7
Bintil akar
12
Berat amplop
21,2 gram
Berat kering
122,4 gram
Berat basah
141,2 gram


PENGAMATAN MINGGU KE-8
Sampel
Jumlah polong
Tanaman 1
80
Tanaman 2
141
Tanaman 4
122
Tanaman 5
112
Tanaman 6
110
                                                                                                                                                                                                                  
CATATAN : ISI POLONG TANAMAN KEDELAI : 3

PENGAMATAN MINGGU KE-9
BERAT POLONG
0,8
BERAT BIJI
129,5
                                                                                                                                                                                                               
CATATAN : INDEKS PANEN :  =  = 0,16

VII.2 PERLAKUAN ABU SEKAM PADI
·         Minggu I
No
Pertumbuhan Tanaman
Tinggi Tanaman
1
100 %
6 cm
2
66.7 %
6 cm
3
100 %
6 cm
4
66.7 %
6 cm
5
66.7 %
6 cm
6
100 %
6 cm
Rata-rata
83.3 %
6 cm
Catatan : Tanaman tumbuh pada hari ke 4 setelah penanaman.
·         Minggu II
No
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
1
9.5 cm
1 tangkai
2
9 cm
1 tangkai
3
11 cm
1 tangkai
4
11 cm
1 tangkai
5
10 cm
1 tangkai
6
11 cm
2 tangkai
Catatan : Pada minggu ke II ini dilakukan penyulaman dan penjarangan.
·         Minggu III
No
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
1
13 cm
3 tangkai
2
14 cm
4 tangkai
3
15 cm
3 tangkai
4
14 cm
4 tangkai
5
14 cm
3 tangkai
6
15.5 cm
4 tangkai
Catatan : Pada minggu ke III ini daun tanaman berlubang lubang dikarenakan diserang hama belalang dan ulat daun.
·         Minggu IV
No
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
1
21 cm
6 tangkai
2
22 cm
8 tangkai
3
23 cm
6 tangkai
4
24 cm
5 tangkai
5
24 cm
5 tangkai
6
26 cm
9 tangkai
Catatan : Minggu ini tanaman juga diserang hama ulat pelipat daun dan serangga-serangga kecil yang juga menyerang daun tanaman.
·         Minggu V
No
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
1
30 cm
14 tangkai
2
38 cm
16tangkai
3
30 cm
13 tangkai
4
38 cm
10 tangkai
5
34 cm
14 tangkai
6
39 cm
19 Tangkai

·         Minggu VI
No
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
Jumlah Cabang
1
47 cm
30 tangkai
7 tangkai
2
55 cm
42 tangkai
8 tangkai
3
45 cm
25 tangkai
7 tangkai
4
53 cm
26 tangkai
5 tangkai
5
50 cm
28 tangkai
7 tangkai
6
55 cm
42 tangkai
7 tangkai





PENGAMATAN MINGGU KE 7 dan 8
Sampel
Jumlah polong
Tanaman 1
147
Tanaman 2
215
Tanaman 4
159
Tanaman 5
176
Tanaman 6
205
Bintil akar
45
Indeks panen
0,2

VII.3 PERLAKUAN ABU TANDAN KOSONG

Perlakuan
Tinggi tanaman
Jumlah daun
Jumlah cabang
Jumlah bintil akar
Berat polong dan biji
Minggu ke-2
9,15 cm
1
-
-
-
Minggu ke-3
15,20 cm
2
-
-
-
Minggu ke-4
19,13 cm
3
-
-
-
Minggu ke-5
26,8 cm
8
-
-
-
Minggu ke-6
32,24 cm
12
4
45
0,5 dan 0,1

INDEKS PANEN : 0,1


4.2       PEMBAHASAN
Pengamatan praktikum ini dilakukan dari pra panen sampai panen dan diberikan perlakuan yang berbeda masing – masing setiap petak tanaman. dapat kita lihat dari tabel hasil kelompok diatas. Pengaruh yang nyata terhadap percobaan kedelai terlihat jelas pada abu sabut kelapa mulai dari pertumbuhan sampai dengan hasil panen.
Analisis yang sangat beragam dari setiap kelompok menunjukkan terdapat pengaruh abu sabut kelapa terhadap tanaman kedelai mulai dari tinggi tanaman, bobot kering tanaman, jumlah polong berisi dan bobot biji pertanaman.
Sunarti (1996) melaporkan bahwa K2O yang terkandung di dalam abu sabut kelapa adalah sebesar 10,25%, dan diberikan sebanyak 643,940 kg ha-1 pada tanaman Centrosema pubescens mampu meningkatkan K-tersedia total tanah sebesar 740,07 mg, dan meningkatkan hasil tanaman. Gusnadi (1999), melaporkan bahwa penambahan abu sabut kelapa mampu meningkatkan tinggi tanaman, jumlah cabang per rumpun, jumlah polong berisi, jumlah biji per polong, dan berat biji per tanaman pada tanaman kedelai.

Dan menurut lakitan ( 2000 ) kalium yang terkandung dalam abu sabut kelapa berperan sebagai zat pengaktif berbagai enzim pada proses fotosintesis , respirasi dan translokasi fotosintat dari daun ke organ atau jaringan tanaman yang membutuhkan. Pada proses fotosintesis, kalium berperan mengatur potensi osmotik sel. Perubahan sel osmotik mempengaruhi proses menutup dan membukanya stomata. Apabila kalium didalam sel meningkat maka potensi osmotik menjadi negative akibat stomata membuka. Proses membukanya stomata memudahkan CO2 masuk kedalam daun dan kemudian dimanfaatkan oleh daun kemudin dimanfaatkan oleh daun untuk fotosintesis.

Selain itu berdasarkan beberapa data dari kelompok tujuh yaitu adanya perlakuan abu sekam padi dan abu janjang kosong bahwa pemberian abu dari kedua tersebut memberikan hasil atau respon yang baik terhadap tanaman kedelai, yaitu mulai dari tinggi tanaman, jumlah polong, jumlah daun , berat biji sampai pertumbuhan tanaman pada fase akhir yaitu panen.
Pada penelitian ini data diatas menunjukkan bahwa perlakuan sabut kelapa tidak kalah dalam hasil dengan perlakuan lainnya ( janjang kosong dan sekam padi ). Begitu juga Sabut kelapa bisa juga sebagai pupuk pengganti yakni pupuk kimia Kcl , urea, dan Tsp. memberikan hasil yang sebanding dengan pemberian pupuk kimia tersebut dengan dosis yang digunakan yaitu 750 gram perpetak seperti yang saya berikan pada saat pengamatan.

BAB V
PENUTUP

        5.1       Kesimpulan

  Dari pengamatan kedelai dari pra panen sampai panen maka dapat disimpulkan :

1.      Bahwa pengaruh pupuk dari limbah tanaman mempunyai skala pertumbuhan yang sangat baik bagi tanaman dibandingkan dengan pupuk kimia.

2.      Pengaruh abu sabut kelapa pada tanaman kedelai mempunyai pengaruh sangat baik karena banyak unsur hara yang terkandung baik mikro dan makro yaitu sekitar10,25%, dan diberikan sebanyak 643,940 kg ha-1 pada tanaman Centrosema pubescens mampu meningkatkan K-tersedia total tanah sebesar 740,07 mg, dan meningkatkan hasil tanaman. Gusnadi (1999), melaporkan bahwa penambahan abu sabut kelapa mampu meningkatkan tinggi tanaman, jumlah cabang per rumpun, jumlah polong berisi, jumlah biji per polong, dan berat biji per tanaman pada tanaman kedelai

             5.2       Saran

Penelitian ii sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan hama dan penyakit pada tanaman sehingga hasil yang diinginkan sesuai dan maksimal dan pada perlakuan abu sabut kelapa saya penggunaannya sebanyak 750 gram perpetak. Maka oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui respon lebih lanjut
 
DAFTAR PUSTAKA
  • ·         Gusnadi, T. 1999. Pengaruh Pemberian Berbagai Jenis Abu Tanaman terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merril). Skripsi Sarjana. Fakultas Pertanian Universitas Jambi, Jambi.
  • ·         Sunarti. 1996. Pengaruh Pemberian Abu Sabut Kelapa dan Pupuk Kandang terhadap K-tersedia pada Ultisol dengan Indikator Tanaman Centrosema pubescens. Skripsi Sarjana. Fakultas Pertanian Universitas Jambi, Jambi.
  • ·         Denian, A. dan A. Fiani. 2001. Tanggap terhadap Bahan Organik Limbah Pisang pada Tanah Podzolik. Stigma 9: 16-18.
  • ·         Wayan. I. Suastika. dkk. 1997. Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut. Proyek Penelitian Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu-ISDP. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
  • ·         Adisarwanto, 2006. Kedelai. Penebar Swadaya, Jakarta
  • ·         Fachruddin, 2000. Budidaya kacang-kacangan. Kanisius, Yogyakarta.
  • ·         Suprapto, 1999. Bertanam kedelai. Penebar Swadaya, Jakarta.
  • ·         Hakim, N., Y. Nyakpa, A. M. Lubis, S.G.Nugroho, M.A. Diha, G. B. Hong dan H. H. Barley. 1986. Dasar - Dasar lmu Tanah. Fakultas Pertanian UniversitasLampung, Bandar Lampung.



Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar